Melihat Manisnya Iman -
Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.
Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24
“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.â€
Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha
Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.
Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?
Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ahâ€, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah
Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqatâ€, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.
“Istildzaadz at-thaa’ahâ€, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :
Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41
Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!†siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah Ø®ÙÙَاÙًالَكÙÙ…Ù' ÙˆÙŽØ«Ùقَالاً Ù„ÙÙŠ , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,
“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.â€
Yang lainnya pun turut berkomentar,
“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?â€
Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,
Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :
Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.
Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.
Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya
Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)
Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.
Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman
Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya
Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya
Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)
Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku†(QS. Yusuf : 33)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/07/776/manisnya-iman/#ixzz22PludPxe
Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?
Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24
“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.â€
Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha
Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.
Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?
Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ahâ€, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah
Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqatâ€, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.
“Istildzaadz at-thaa’ahâ€, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :
رَØÙÙ…ÙŽ الله ÙÙ†ÙØ³ÙŽØ§Ø¡ÙŽ Ø§Ù'لاَنÙ'صَار٠وَالÙ'Ù…ÙÙ‡ÙŽØ§Ø¬ÙØ±ÙŽØ§ØªÙ Ù„ÙŽÙ…Ù'َا نَزَلَتÙ' عَلَيÙ'Ù‡ÙÙ†Ù'ÙŽ “وَلÙ'يَضÙ'Ø±ÙØ¨Ù'Ù†ÙŽ Ù…ÙÙ†Ù' جَلاَ بÙÙŠÙ'بÙÙ‡ÙÙ†Ù'ÙŽ عَلَى جÙÙŠÙÙˆÙ' بÙÙ‡ÙÙ†Ù'َ†شَقَقÙ'Ù†ÙŽ Ù…ÙØ±ÙÙˆÙ'Ø·ÙŽÙ‡ÙÙ†Ù'ÙŽ ÙÙŽÙ„Ù'ÙŠÙŽØ®Ù'ØªÙŽÙ…ÙØ±Ù'Ù†ÙŽ بÙهَا
“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,†mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanyaAbu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41
انÙ'ÙÙØ±Ùوا Ø®ÙÙَاÙًا ÙˆÙŽØ«Ùقَالًا ÙˆÙŽØ¬ÙŽØ§Ù‡ÙØ¯Ùوا Ø¨ÙØ£ÙŽÙ…Ù'وَالÙÙƒÙÙ…Ù' ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù'ÙÙØ³ÙÙƒÙÙ…Ù' ÙÙÙŠ سَبÙيل٠اللÙ'َه٠ذَلÙÙƒÙÙ…Ù' خَيÙ'رٌ Ù„ÙŽÙƒÙÙ…Ù' Ø¥ÙÙ†Ù' ÙƒÙÙ†Ù'تÙÙ…Ù' تَعÙ'Ù„ÙŽÙ…Ùونَ
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.†Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!†siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah Ø®ÙÙَاÙًالَكÙÙ…Ù' ÙˆÙŽØ«Ùقَالاً Ù„ÙÙŠ , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,
“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.â€
Yang lainnya pun turut berkomentar,
“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?â€
Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,
بَلÙ' أَرÙ'جÙÙˆ Ø£ÙŽÙ†Ù' ÙŠÙØ®Ù'Ø±ÙØ¬ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù'ÙŽÙ‡Ù Ù…ÙÙ†Ù' أَصÙ'لَابÙÙ‡ÙÙ…Ù' Ù…ÙŽÙ†Ù' يَعÙ'Ø¨ÙØ¯Ù اللÙ'ÙŽÙ‡ÙŽ ÙˆÙŽØÙ'دَه٠لَا ÙŠÙØ´Ù'رÙك٠بÙÙ‡Ù Ø´ÙŽÙŠÙ'ئًا
“Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.â€Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :
Ø£ÙŽÙ„ÙŽÙ…Ù' تَرَ ÙƒÙŽÙŠÙ'ÙÙŽ ضَرَبَ اللÙ'َه٠مَثَلًا ÙƒÙŽÙ„Ùمَةً Ø·ÙŽÙŠÙ'ÙØ¨ÙŽØ©Ù‹ كَشَجَرَة٠طَيÙ'ÙØ¨ÙŽØ©Ù أَصÙ'Ù„Ùهَا Ø«ÙŽØ§Ø¨ÙØªÙŒ ÙˆÙŽÙَرÙ'عÙهَا ÙÙÙŠ السÙ'َمَاءÙ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.†(Ibrahim : 24)Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.
عَنÙ' أَنَس٠عَن٠النÙ'َبÙÙŠÙÙ' صَلÙ'ÙŽÙ‰ اللÙ'َه٠عَلَيÙ'ه٠وَسَلÙ'ÙŽÙ…ÙŽ قَالَ: ((ثَلاَثٌ Ù…ÙŽÙ†Ù' ÙƒÙÙ†Ù'ÙŽ ÙÙيه٠وَجَدَ بÙÙ‡ÙÙ†Ù'ÙŽ ØÙŽÙ„اَوَةَ الإÙÙŠÙ'مَانÙ: Ù…ÙŽÙ†Ù' كَانَ اللÙ'َه٠وَرَسÙولÙه٠أَØÙŽØ¨Ù'ÙŽ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù Ù…ÙÙ…Ù'َا سÙوَاهÙمَا، ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù' ÙŠÙØÙØ¨Ù'ÙŽ الÙ'مَرÙ'ءَ لاَ ÙŠÙØÙØ¨Ù'Ùه٠إÙلاÙ'ÙŽ Ù„ÙÙ„Ù'ÙŽÙ‡ÙØŒ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù' ÙŠÙŽÙƒÙ'رَهَ Ø£ÙŽÙ†Ù' يَعÙودَ ÙÙÙŠ الÙ'ÙƒÙÙÙ'ر٠بَعÙ'دَ Ø£ÙŽÙ†Ù' Ø£ÙŽÙ†Ù'قَذَه٠اللÙ'ÙŽÙ‡Ù Ù…ÙÙ†Ù'ه٠كَمَا ÙŠÙŽÙƒÙ'رَه٠أَنÙ' ÙŠÙÙ‚Ù'ذَÙÙŽ ÙÙÙŠ النÙ'َارÙ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا Ù„ÙØ¸ مسلم).
Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.†(HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)عَنÙ' الÙ'عَبÙ'َاس٠بÙ'ن٠عَبÙ'د٠الÙ'Ù…ÙØ·Ù'ÙŽÙ„ÙØ¨Ù Ø£ÙŽÙ†Ù'ÙŽÙ‡Ù Ø³ÙŽÙ…ÙØ¹ÙŽ Ø±ÙŽØ³Ùولَ اللÙ'َه٠صَلÙ'ÙŽÙ‰ اللÙ'َه٠عَلَيÙ'ه٠وَسَلÙ'ÙŽÙ…ÙŽ ÙŠÙŽÙ‚ÙولÙ: ((ذَاقَ طَعÙ'Ù…ÙŽ الإÙÙŠÙ'مَان٠مَنÙ' رَضÙÙŠÙŽ Ø¨ÙØ§Ù„Ù„Ù'َه٠رَبÙ'ًا ÙˆÙŽØ¨ÙØ§Ù„Ø¥ÙØ³Ù'لاَم٠دÙينًا وَبÙÙ…ÙØÙŽÙ…Ù'َد٠رَسÙولاً)) (رواه مسلم).
Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.†(HR. Muslim)Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.
Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya
Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)
Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.
عَنÙ' عَمÙ'َار٠بÙ'Ù†Ù ÙŠÙŽØ§Ø³ÙØ±Ù قاَلَ : ثَلاَثٌ Ù…ÙŽÙ†Ù' ÙƒÙÙ†Ù'ÙŽ ÙÙÙŠÙ'ه٠وَجَدَ بÙÙ‡ÙÙ†Ù'ÙŽ ØÙŽÙ„اَوَةَ اÙ'Ù„ÙØ§ÙŠÙ'مَان٠:اَلاÙ'Ù†ÙÙÙ'اَق٠مÙÙ†ÙŽ اÙلاÙÙ‚Ù'تَار٠، ÙˆÙŽØ¥ÙÙ†Ù'صَاÙ٠النÙ'َاس٠مÙÙ†Ù' Ù†ÙŽÙÙ'سÙÙƒÙŽ ØŒ وَبذÙ'ل٠السÙ'َلاَم٠لÙÙ„Ù'عَالَم٠(رواه عبد الرزاق) علقه البخاري ÙÙŠ (كتاب الايمان)
Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.†(Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman
Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya
Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya
Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)
عَن٠ابÙ'ن٠مَسÙ'عÙÙˆÙ'د٠قَالَ : ثَلاَثٌ Ù…ÙŽÙ†Ù' ÙƒÙÙ†Ù'ÙŽ ÙÙÙŠÙ'Ù‡Ù ÙŠÙŽØ¬ÙØ¯Ù' بÙÙ‡ÙÙ†Ù'ÙŽ ØÙŽÙ„اَوَةَ اÙ'لاÙÙŠÙ'مَان٠: تَرÙ'ك٠اÙ'Ù„Ù…ÙØ±ÙŽØ§Ø¡Ù Ùي٠الÙ'ØÙŽÙ‚Ù'Ù ØŒ وَاÙ'Ù„ÙƒÙØ°Ù'ب٠ÙÙÙŠ اÙ'Ù„Ù…ÙØ²ÙŽØ§ØÙŽØ©Ù ØŒ وَيَعÙ'لَم٠أَنÙ'ÙŽ مَا أَصَابَه٠لَمÙ' ÙŠÙŽÙƒÙÙ†Ù' Ù„ÙÙŠÙØ®Ù'Ø·ÙØ¦ÙŽÙ‡Ù ØŒ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù'ÙŽ مَا Ø£ÙŽØ®Ù'Ø·ÙŽØ£ÙŽÙ‡Ù Ù„ÙŽÙ…Ù' ÙŠÙŽÙƒÙÙ†Ù' Ù„ÙÙŠÙØµÙÙŠÙ'بَهÙ. (رواه عبد الرزاق)
Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).†(Diriwayatkan Abdurrazzaq).عن أنس مرÙوعا: “لاَ ÙŠÙŽØ¬ÙØ¯Ù عَبÙ'دٌ ØÙŽÙ„اَوَةَ الإÙÙŠÙ'مَان٠ØÙŽØªÙ‰Ù'ÙŽ يَعÙ'Ù„ÙŽÙ…ÙŽ Ø£ÙŽÙ†Ù'ÙŽ مَا أَصَابَه٠لَمÙ' ÙŠÙŽÙƒÙÙ†Ù' Ù„ÙÙŠÙØ®Ù'Ø·ÙØ¦ÙŽÙ‡Ù ØŒ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù'ÙŽ مَا Ø£ÙŽØ®Ù'Ø·ÙŽØ£ÙŽÙ‡Ù Ù„ÙŽÙ…Ù' ÙŠÙŽÙƒÙÙ†Ù' Ù„ÙÙŠÙØµÙÙŠÙ'بَه٠… â€ Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ« . أخرجه ابن أبي عاصم ( 247 ) بإسناد ØØ³Ù† عنه. (الألباني â€" السلسلة الصØÙŠØØ©)
Dari Anas secara marfu’ mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).†Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.(Ù‚ÙÙ„Ù' Ù„ÙÙ„Ù'Ù…ÙØ¤Ù'Ù…ÙÙ†ÙÙŠÙ'Ù†ÙŽ ÙŠÙŽØºÙØ¶Ù'Ùوا Ù…ÙÙ†Ù' أَبÙ'صَارÙÙ‡ÙÙ…Ù') * وَالÙ'غَضÙ'٠عَن٠الÙ'Ù…ÙŽØÙŽØ§Ø±ÙÙ…Ù ÙŠÙÙˆÙ'Ø¬ÙØ¨Ù ØÙŽÙ„اَوَةَ الإÙÙŠÙ'Ù…ÙŽØ§Ù†ÙØŒ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ†Ù' تَرَكَ Ø´ÙŽÙŠÙ'ئًا Ù„ÙÙ„Ù'ه٠عَوÙ'َضَه٠الله٠خَيÙ'رًا Ù…ÙÙ†Ù'Ù‡ÙØŒ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ†Ù' Ø£ÙŽØ·Ù'Ù„ÙŽÙ‚ÙŽ Ù„ÙŽØÙŽØ¸ÙŽØ§ØªÙه٠دَامَتÙ' ØÙŽØ³ÙŽØ±ÙŽØ§ØªÙÙ‡Ù. (Ùيض القدير 1/677).
“Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka…†(An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannyaâ€Ø¹ÙŽÙ†Ù' Ù…ÙØ¹ÙŽØ§Ø°Ù بن جَبَل٠قَالَ: قَالَ رَسÙول٠اللÙ'َه٠صَلÙ'ÙŽÙ‰ اللÙ'َه٠عَلَيÙ'ه٠وَسَلÙ'ÙŽÙ…ÙŽ:â€Ù„ÙŽÙˆÙ' ÙƒÙÙ†Ù'ØªÙ Ø¢Ù…ÙØ±Ù‹Ø§ Ø£ÙŽØÙŽØ¯Ù‹Ø§ Ø£ÙŽÙ†Ù' يَسÙ'Ø¬ÙØ¯ÙŽ Ù„Ø£ÙŽØÙŽØ¯Ù لأَمَرÙ'ت٠الÙ'مَرÙ'أَةَ Ø£ÙŽÙ†Ù' تَسÙ'Ø¬ÙØ¯ÙŽ Ù„ÙØ²ÙŽÙˆÙ'جÙهَا Ù…ÙÙ†Ù' ØÙŽÙ‚ÙÙ'ه٠عَلَيÙ'هَا، وَلاَ ØªÙŽØ¬ÙØ¯Ù امÙ'رَأَةٌ ØÙŽÙ„اَوَةَ الإÙÙŠÙ'مَان٠ØÙŽØªÙ'ÙŽÙ‰ ØªÙØ¤ÙŽØ¯ÙÙ'ÙŠÙŽ ØÙŽÙ‚Ù'ÙŽ زَوÙ'جÙهَا، ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙˆÙ' سَأَلَهَا Ù†ÙŽÙÙ'سَهَا عَلَى قَتَبÙ.†(المعجم الكبير للطبراني)
Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnyaقاَلَ Ø§ÙØ¨Ù'ن٠رَجَبÙ' ÙÙÙŠ (ÙَتÙ'ØÙ الÙ'بَارÙÙŠ: 1/27): ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ وَجَدَ اÙ'لقَلÙ'ب٠ØÙŽÙ„اَوَةَ اÙ'لإÙÙŠÙ'مَان٠أَØÙŽØ³Ù'ÙŽ بÙمَرَارَة٠اÙ'لكÙÙÙ'ر٠وَاÙ'Ù„ÙÙØ³ÙÙˆÙ'ق٠وَاÙ'Ù„Ø¹ÙØµÙ'يَان٠وَلÙهَذَا قَالَ ÙŠÙÙˆÙ'سÙÙ٠عَلَيÙ'ه٠السÙ'َلاَم Ù: {رَبÙ'٠السÙ'ÙØ¬Ù'ن٠أَØÙŽØ¨Ù'٠إÙÙ„ÙŽÙŠÙ'ÙŽ Ù…ÙÙ…Ù'َا يَدÙ'عÙونَنÙÙŠ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙŠÙ'Ù‡Ù} [يوسÙ33].
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/07/776/manisnya-iman/#ixzz22PludPxe