iklan

Cerita Dewasa Aku Diperkosa Ayahku Sendiri

Cerita Dewasa Aku Diperkosa Ayahku Sendiri

Cerita Dewasa Aku Diperkosa Ayahku Sendiri -

http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/Diperkosa.jpg
Umurku baru 11 tahun, masih ingusan, belum baligh (alias belum disunat) hehehe, kelas 1 SMP di SMPN 3 Medan (selalu pamer). Ada band lagi booming2nya waktu itu (kalau gak salah yang lagunya walau badai menghadang..penting ya ??). oke, gak ada hubungannya dengan semua itu, tapi selukis cerita tergores saat aku tidak layak memandang lukisan buram itu.
Masih jelas di memori ini, sepulang sekolah (naik angkutan kota), letih, gerah, terlalu sulit untuk disembunyikan. Ya, rumah kelihatan ramai dari luar, itu tandanya ada tamu (anak muda kog bad looking). Lamat-lamat, seragam putih biru ini kubereskan sebelum mengucapkan salam di daun pintu. Kuedarkan pandangan ke penjuru ruang keluarga rumah. Ada nantulang (istrinya tulang), mamak, bapak, kakak, dan seorang gadis yang masih seumuran denganku (kelas 2 SMP). Pikiran menerawang bagaikan cenayang (lebay kali) yang sedang menipu orang-orang yang gak berani melawan masa depan. “Siapa gadis itu,”dasar anak kecil,hahaha (lumayan cantik, ika namanya).
Tiada kalimat ataupun kata penjelasan mengenai siapa geranggan gadis itu dari keluarga siregar ataupun gurning yang ada di rumahku. Tak peduli aku karna gerah sudah meronta untuk dimandikan. Aku pun melakukan rutinitas seperti biasanya.
Malamnya masih sama, kutanya bapak (diam), mamak (diam), kakak (lagi gak kawan,,haha), si ika (membisu). Rumah jadi perkuburan, sebelum aku memecah suasana, merengek agar uang buku segera dilunasi karna ujian sudah dekat (mungkin sedikit cari perhatian dengan si ika, maklum lagi puber-pubernya). Aneh, gak biasanya mamak mengiyakan kalau masalah uang buku. Insting conan edogawaku bermain, ada apa dengan gadis ini.

sekitar jam 12 malam, aku ke kamar bapak, menguping pembicaraan mereka. Saat itu tak sadar air mata ini menetes. Kak ika (aku pustuskan memanggilnya kakak), gadis yang membisu tadi diperkosa ayahnya berkali-kali. Ayah dan ibunya bercerai beberapa tahun yang lalu, hak atas anak diberikan pada ayahnya (gak pake pengadilan kayak artis, tapi ayahnya memaksa). Sekarang ibunya sudah menikah dengan seorang pria di batam (sudah gak melarat lagi, suaminya pengusaha barang elektronik di batam). Ayahnya seorang penarik becak. Kak ika tinggal dengan adik laki-lakinya, ayah yang gak pantas disebut ayah, nenek yang juga gak pantas disebut nenek di rumah yang reot. Aku geram karna neneknya mengetahui semua perbuatan ayah kak ika selama ini, tapi mendiamkannya.
Kejadian ini terungkap setelah keberanian muncul untuk membeberkan perbuatan sang ayah kepada nantulangku (kebetulan kepala lingkungan), ia mengaku gak kuat menjadi pelampiasan nafsu ayahnya selama bertahun-tahun.
Seminggu kak ika tinggal di rumahku, dua hari pertama tak pernah terlihat senyum dari bibir merahnya, segala hal kulakukan dengan kakak (dia akhirnya cerita tentang gadis malang itu) untuk membuatnya tersenyum, mengajaknya bermain bulutangkis, naik sepeda di jalan tol dekat rumah (cukup sepi), main masak-masakan, main petak umpet, bahkan mamak juga mengajaknya masak di dapur, sekalian menularkan bakat bergosip mamakku tercinta sih, (hah,,jadi rindu sama rumah nii).
Keakraban itu sudah tidak memandang dirinya yang ternoda, kami sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Mamak dan bapak pun sudah sangat menyayanginya. Tak terasa hari ke-8, ibu kak ika yang di batam datang untuk menjemput (dibawa ke batam). Rencananya kak ika akan di pesantrenkan. Kakakku yang biasanya cerewet menangis dan gak mau keluar kamarnya. Jelas kesedihan terpancar dari mamak dan bapak yang juga ikut menangis mengantar kepergian kak ika ke batam. Kabar dari nantulang, ayahnya sekarang dipenjara dan menunggu proses hukum lainnya.
Hari itu, rumah terasa sepi tanpa kak ika, naluri bergosip mamak pun memudar sementara waktu, kakak yang sudah mulai menyayangi aku apa adanya (sudah gak pernah bertengkar lagi), dan bapak yang semakin tercurah kasih sayangnya kepada kami (hehehe,,,uang buku bisa dibayar ni). Kak ika meninggalkan kenangan dan secarik kertas putih bertuliskan nomor telepon mereka di batam. Sebulan pertama ia menelepon kami hanya untuk mengatakan sekarang dia di pesantren. Senangnya aku karena kami telah mampu bermanfaat untuk orang lain, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain



Sumber: http://www.menjelma.com/

0 comments:

Post a Comment